SHARE

Berikut kopas.ID merangkum tips yang dipaparkan oleh para ahli MikroTik.

Mikrotik banyak digunakan di Indonesia salah satunya karena memang memiliki banyak fitur yang unggul di bidang wireless namun seringkali pada saat menggunakan atau memasangnya kadang-kadang kita melakukan kesalahan-kesalahan.

Berikut ini adalah 10 kesalahan yang sering dilakukan oleh penggunaan mikrotik:

1. Kesalahan yang sering terjadi dalam membangun jaringan wireless point to multipoint

Ketika kita mengimplementasikan wirelles poin to multipoin, biasanya kita mendapatkan kasus salah satu kliennya mengalami signyal yang tidak bagus, biasanya signyal yang tidak bagus pada jaringan point to multipoint ini akan mempengaruhi klien lain yang lain pada access point yang sama.

Solusinya kita bisa membatasi sinyal dari klien yang akan terkoneksi ke access point dengan menggunakan access list sehingga kita bisa membatasi atau setidaknya mengurangi efek klien yang sinyalnya jelek terhadap akses point tersebut.

2. Pemilihan channel width

Kita menggunakan channel width standar yaitu 20MHz dikondisi jaringan wirelles yang krowdead. Hal ini menyebabkan koneksi wirellesnya tidak maksimal.

Disarankan untuk menggunakan channel width yang lebih kecil yaitu 10 MHz atau 5MHz dimana kita masih bisa terkoneksi walaupun dalam kondisi krowdead dan effek krowdead atau effek interfrensinya lebih kecil ketimbang kita menggunakan channel width standar yaitu 20MHz

3. Kesalahan pemilihan wirelles protocol

Mikrotik saat ini sudah mensupport beberapa standar wirelles misal b/g/n bahkan ac yang setiap protocol memiliki frekuensi dan juga kecepatan data ratenya masing-masing, misal kita menggunakan standar wirelles ac yang menggunakan frekuensi 5GHz dan kecepatan teoritis bisa sampai 1GB yang sebenarnya protocol ini belum banyak disupport oleh banyak client misal labtop atau hp.

Disarankan menggunakan access point yang banyak disupport oleh banyak klien, atau bisa menggunakan access point yang dual band dan multi protokol sehingga bisa menerima banyak standar client.

4. Kesalahan dalam menentukan besarnya TX power wirelles

Kita sering beranggapan bahwa makin besar TX power wirelles itu akan lebih baik dan lebih jauh jangkauannya hal ini tidak sepenuhnya benar kenapa karena wirelles bekerja dua arah.

Jadi misalnya kita punya access point dengan power yang besar tapi antena yang kecil mungkin akan diterima dengan cpi dengan sinyal cukup besar, tapi biasanya cpi-cpi seperti gadget-gadget handphone, laptop itu power dan antenanya kecil sehingga untuk transmit baliknya dari cpi ke access point sinyalnya tidak sampai.

Solusi paling benar adalah memperbesar antena bukan memperbesar tx power pada perangkat wirelles atau kalau harus memperbesar tx power pada perangkat wirelles lakukanlah dikedua sisi, jadi tidak hanya pada access pointnya tetapi juga pada cpi sehingga trafik internetnya bisa seimbang untuk tx maupun rx nya.

5. Kesalahan dalam menentukan cakupan signal antena

Terkadang kita ingin mengcover area yang cukup jauh kemudian bukaan sinyalnya juga besar kemudian kita pilih omni directional antena nah ini tidak juga terlalu tepat karena apa biasanya juka kita menggunakan antena dengan bukaan antena yang cukup besar jarak jangkauannya akan lebih pendek sehinga jika ingin menjangkau jarak yang jauh.

Mau tidak mau kita harus menggunakan antena yang bukaan sinyalnya lebih kecil yaitu antena yang directional kenapa karena nanti juga akan mempengaruhi kualitas sinyal kita, apabila jaraknya cukup jauh kemudian menggunakan bukaan antena yang cukup besar pasti noisenya akan lebih besar juga sehingga sinyalnya tidak akan bisa dicapai dengan kualitas yang baik.

6. Kesalahan menentukan ketinggian pemasangan antena omni

Ketika kita menempatkan antena omni terlalu tinggi diatas tower, ini mengakibatkan sinyal yang diterima disisi klien dibawahnya tidak maksimal sebab antena omni memiliki bukaan sinyal memang 360 derajat tetapi secara horizontal sedangkan secara vertical atau naik turunnya itu sangat kecil.

Solusinya adalah kita bisa menggunakan antena semacam sectoral karena biasanya walaupun bukaan sinyalnya cukup besar 120 derajat misalnya tetapi sectoral mempunyai tilt yang bisa dipejas atau di atur untuk mengarahkan bukaan sinyalnya untuk kebawah sehingga nanti client akan mendapatkan sinyal yang cukup baik.

7. Kesalahan dalam pemilihan polatisasi antena yang digunakan

Didalam dunia wirelles kita mengenal dua polarisasi yang sering kita gunakan yaitu polarisasi vertical dan horizontal. Banyak yang menggunakan antena omni yang rata-rata yang umunya antena omni menggunakan polarisasi vertical ketika kita menggunakan ujung disatu sisi lainnya menggunakan selain omni contohnya flat pannel maupun grid.

Pastikan kita juga menggunakan polarisasi yang benar. Biasanya didalam sebuah antena sudah ada tanda indikator kalau misalnya tanda panah kalau keatas berarti vertical, kalau kesamping horizontal. Ketika kita access ponmnya menggunakan antena vertical atau omni vertical berarti saat memasang grid atau flat panel kita juga harus menggunakan polarisasi vertical juga supaya sinyal yang kita transmisikan dapat berjalan secara maksimal.

8. Kesesuaian frekuansi antena dengan perangkat wirelles

Ketika kita menggunakan radio 2.4GHz dan menggunakan antena antena 5GHz secara teknis sinyal terpancar tetapi ketika sinyal kita cek, maka sinyal tidak maksimal.

Setiap antena mempunyai frekuensi berbeda beda jadi pastikan saat Anda membuat akses point pastikan ingin berjalan difrekuensi berapa kemudian wirelles outdor berjalan difrekuensi berapa dan antena yang digunakan difrekuensi berapa ketiga parameter ini harus sama.

9. Kurangnya pemasangan grounding pada perangkat wirelles

Beberapa perangkat wirelles outdor mikrotik menyediakan konektor grounding supaya kita bisa tancapkan ke jalur grounding eksternal kita.

Kenapa kita harus pasang grounding, supaya ketika ada ledakan arus listrik ke arah perangkat wirelles outdoor kita kerusakan bisa diminimalisir.

10. Perlindungan pada konektor ethernet dan jumper

Kita tahu di Indonesia ini cuacanya sangat lembab jika proteksinya kurang bisa jadi menyebabkan kondensasi didalam konektor terhernet atau jumper, kondensasi ini bisa menyebabkan sinyal atau power tidak akan keluar.

Solusinya adalah pada saat pemasangan ethernet pastikan pada saat pemasangan ethernet isolator yang disediakan dari casingnya kita gunakan dan kemudian pada saat pemasangan jumper konektornya kita kasih isolasi karet tujuannya agar tidak terjadi kondensasi didalam konektor.